Kalau mereka bertanya tentang kamu, maka jawaban apa yang harus ku beri pada mereka ? Kalau mereka ingin tahu tentang kabar mu, maka apa yang harus ku jawab ? Sedang aku pun kini tak pernah tahu bagaimana kabar mu. Sedang kini aku pun tak pernah lagi dengar tentang mu. Kamu tau dulu seberapa familiar telinga ini mendengar nama mu, sekarang nama mu bahkan terdengar asing di telinga ku. Kita sekarang sudah tidak lebih dari aku dan kamu. Kita sekarang tidak lebih dari 2 makhluk asing yang saling menghindari. Kita sekarang tidak lebih dari 2 anak manusia yang hanya bisa saling tatap diam diam dalam gelap. Kita hanya 2 jasad yang dahulu pernah saling mendoakan. Kau tahu bahkan sekarang untuk menyebut nama mu pun aku tak berani. Kau tahu bahkan untuk sekedar mendoakan mu diam diam pun aku tak kuasa. Kau tahu bahkan hanya untuk melihat mu dari kejauhan pun aku tak mampu. Kemarin rasanya baru kita saling beradu ego saling menyalahkan tentang siapa yang salah dan hari ini ku sesali semuanya. Ini bukan tentang siapa yang salah tapi siapa yang berani mengalah. Ego kita tampaknya mengalahkan rasa yang pernah ada. Seperti dahulu yang selalu kita perbincangkan tentang istana mungil untuk kita berdua seperti dahulu yang kita impikan aku berdiri di depan rumah dengan senyum manis di wajah menanti pulang mu seperti dahulu yang kita harapkan ku aminkan setiap doa yang terucap dari bibir ku kau imam ku aku makmum mu. Tidak akan ada yang berubah, hanya aku saja yang tidak mampu memenuhi mimpi itu. Tapi kau tidak perlu khawatir. Tidak pernah biar sekali aku lalai mendokan mu dalan setiap sujud ku. Ku sebut nama mu ku doakan kamu agar esok kau dapatkan pengganti ku. Agar esok kau dapat seseorang yang bisa penuhi itu. Agar esok ada dia yang baru yang mampu membuat mu bahagia. Disini dipersimpangan ini mari kita saling melepas mari saling mengikhlaskan mari saling merelakan. Kau pernah menjadikan ku bagian terpenting dalam perjalanan hidup mu. Semoga esok kita dipertemukan dalam keadaan bahagia. Kamu dengan pilihan mu dan aku dengan pilihan ku.
i am just an ordinary teacher. ya, aku memang hanya guru biasa di sekolah biasa dengan kemampuan mengajar yang juga biasa biasa saja. ingat dahulu ketika pertama kali menginjakan kaki di negara ini aku tak ubahnya orang asing yang tersesat diantara kerumunan manusia. hanya bermodalkan niat aku pergi meninggalkan negara ku dan terbang ke negara ini. berbeda bahasa, berbeda budaya, berbeda latar belakang, semua berbeda. satu minggu pertama aku disini hanya takjub dan bangga yang ku rasa. mimpi ku menjadi nyata. impianku untuk memijakkan kaki di negara ini terwujud sudah. tapi itu hanya satu minggu pertama, minggu minggu selanjutnya hidup mulai terasa berat. mencari pekerjaan di negara orang tidak semudah yang aku bayangkan. belum lagi rasa rindu terhadap kampung halaman mulai muncul berat rasanya hati setiap akan mengangkan telfon dari orang tua nan jauh disana. ketika mendengar suara mereka seperti remuk hati ini. ingin rasanya berlari menuju bandara dan kembali ke negara asal ku. tap...
Komentar
Posting Komentar