Aku diam, menatap mu dalam diam. Aku menangis, menatap mu diam diam aku menangis. Rasanya kemarin janji itu terdengar dan hari ini janji itu menghilang. Aku pergi, ya aku sengaja pergi. Memang aku enggan untuk kembali. Biar, biar aku pergi aku tak ingin kembali. Disana, ditempat itu terlalu banyak kenangan aku dan kamu. Kenangan itu tetap aku dan kamu tetap kita sementara sekarang aku tak lagi bersama dengan mu. Sekarang kita hanya 2 manusia yang tak lagi ingin saling menyapa. Kita hanya 2 anak manusia yang pernah saling mendoakan. Pernah, iya pernah karena sekarang jangankan saling meneyebut dalam doa, terbesit akan tentang 'kita' pun sudah tak pernah. Bukan enggan bukan tidak mau atau tidak ingat tapi lebih ke aku malas membongkar luka lama yang bisa mengusik ketenangan jiwa. Luka yang kemarin butuh waktu lama untuk menjadi baik baik saja, rasanya terlalu jahat pada hati kalau ingin mengoreknya kembali. Bohong rasanya kalau bisa dengan ikhlas aku mendoakan kebahagiaan untuk m...
Kalau mereka bertanya tentang kamu, maka jawaban apa yang harus ku beri pada mereka ? Kalau mereka ingin tahu tentang kabar mu, maka apa yang harus ku jawab ? Sedang aku pun kini tak pernah tahu bagaimana kabar mu. Sedang kini aku pun tak pernah lagi dengar tentang mu. Kamu tau dulu seberapa familiar telinga ini mendengar nama mu, sekarang nama mu bahkan terdengar asing di telinga ku. Kita sekarang sudah tidak lebih dari aku dan kamu. Kita sekarang tidak lebih dari 2 makhluk asing yang saling menghindari. Kita sekarang tidak lebih dari 2 anak manusia yang hanya bisa saling tatap diam diam dalam gelap. Kita hanya 2 jasad yang dahulu pernah saling mendoakan. Kau tahu bahkan sekarang untuk menyebut nama mu pun aku tak berani. Kau tahu bahkan untuk sekedar mendoakan mu diam diam pun aku tak kuasa. Kau tahu bahkan hanya untuk melihat mu dari kejauhan pun aku tak mampu. Kemarin rasanya baru kita saling beradu ego saling menyalahkan tentang siapa yang salah dan hari ini ku sesali semuany...