Aku diam, menatap mu dalam diam. Aku menangis, menatap mu diam diam aku menangis. Rasanya kemarin janji itu terdengar dan hari ini janji itu menghilang. Aku pergi, ya aku sengaja pergi. Memang aku enggan untuk kembali. Biar, biar aku pergi aku tak ingin kembali. Disana, ditempat itu terlalu banyak kenangan aku dan kamu. Kenangan itu tetap aku dan kamu tetap kita sementara sekarang aku tak lagi bersama dengan mu. Sekarang kita hanya 2 manusia yang tak lagi ingin saling menyapa. Kita hanya 2 anak manusia yang pernah saling mendoakan. Pernah, iya pernah karena sekarang jangankan saling meneyebut dalam doa, terbesit akan tentang 'kita' pun sudah tak pernah. Bukan enggan bukan tidak mau atau tidak ingat tapi lebih ke aku malas membongkar luka lama yang bisa mengusik ketenangan jiwa. Luka yang kemarin butuh waktu lama untuk menjadi baik baik saja, rasanya terlalu jahat pada hati kalau ingin mengoreknya kembali. Bohong rasanya kalau bisa dengan ikhlas aku mendoakan kebahagiaan untuk mu dengan dia sementar aku, aku yang pernah memimpikan bahagia dengan mu. Jahat, ah biarlah. Jahat ini bagian dari proses ku untuk melangkah pergi. Satu dua tentang mu sudah mulai terhapus dari benak ku tapi satu dua kebaikan mu masih tergambar jelas di dalam kalbu. Sakitnya pun masih tapi entah kenapa selalu baik dan bahagia yang tergambar nyata, padahal ingat ku sakitnya lebih tidak terhingga. Tapi ya sudahlah. Kata ibu tidak boleh menyimpan dendam. Doakan saja semoga aku bisa berdamai dengan kenyataan, menerima keadaan, hidup dalam ketenangan.
i am just an ordinary teacher. ya, aku memang hanya guru biasa di sekolah biasa dengan kemampuan mengajar yang juga biasa biasa saja. ingat dahulu ketika pertama kali menginjakan kaki di negara ini aku tak ubahnya orang asing yang tersesat diantara kerumunan manusia. hanya bermodalkan niat aku pergi meninggalkan negara ku dan terbang ke negara ini. berbeda bahasa, berbeda budaya, berbeda latar belakang, semua berbeda. satu minggu pertama aku disini hanya takjub dan bangga yang ku rasa. mimpi ku menjadi nyata. impianku untuk memijakkan kaki di negara ini terwujud sudah. tapi itu hanya satu minggu pertama, minggu minggu selanjutnya hidup mulai terasa berat. mencari pekerjaan di negara orang tidak semudah yang aku bayangkan. belum lagi rasa rindu terhadap kampung halaman mulai muncul berat rasanya hati setiap akan mengangkan telfon dari orang tua nan jauh disana. ketika mendengar suara mereka seperti remuk hati ini. ingin rasanya berlari menuju bandara dan kembali ke negara asal ku. tap...
Komentar
Posting Komentar