malu malu aku memasuki mushola sekolah siang itu. wajah ku memerah saat semua mata mengarah kepada ku. teman ku dengan santainya memotong pembicaraan yang sedang berlangsung disana untuk memperkenalkan ku. yaa, waktu itu ia memaksa ku untuk bergabung dengan salah satu ekstra yang ada di sekolah. awalnya aku menolak karna aku beranggapan itu bukan tempat ku. tapi setelah paksan bertubi tubi itu akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti kemauan teman baik ku. kamu, waktu itu ketuanya kamu, iya kamu. kamu tersenyum dan mengatakan bahwa kamu menerima kehadiran ku. begitu juga yang lainnya. aku pun mengangguk dan duduk dengan tenang. hari itu aku dan kamu sebatas ketua dan anggota.
waktu terus berganti dan kita semakin dekat. setiap hari ku lewati hari ku dengan menanti setiap sms dan telfon dari mu. hubungan kita ? kakak dan adik, sudah mengalami peningkatan dari yang awalnya hanya ketua dan anggota. mungkin berharap lebih, tapi memang masih kakak dan adik. masih ? ya karena ini masih awal kisahnya. masih sebatas kakak dan adik.
hari itu hari dimana kamu melepaskan jabatan mu sebagai ketua. salah seorang teman ku menggantikan mu. ah, bukan itu poin utamanya. setelah selesai pergantian jabatan kami pulang seperti biasa. hari itu gag ada hal yang menyenangkan jadi aku pun pulang dengan perasaan yang biasa biasa saja. sampai dirumah ku hempaskan badan di atas kasur kesanyangan. lelah.
ketika aku akan beranjak tiba tiba handphone ku berbunyi. ada sebuah pesan masuk yang tak lain dan tak bukan itu dari kamu. isinya "ada yang mau mas bicarain sama kamu. ini bisa jadi membahagiakan tapi bisa juga gag." ku balas dengan cepat "apaan mas ? ada apa ?" kalian tau lah kemana arah pembicaraan ini. tidak perlu detail ku jelaskan bukan. ya, aku memutuskan untuk berada disisinya.
di awal hubungan ini aku mendapat banyak "kesusahan". selain karena banyak temannya yang tak menyukai ku, juga karena banyak teman ku yang tak setuju dengan keputusan ku. belum lagi orang orang diluar lingkup kami cukup iseng menyebar berita yang membuat telinga tidak nyaman. belum pula tulisan tulisan miring tentang dia dan aku. hei, kami ini hanya pelajar biasa bukan entertainer atau pun anak bangsawan kenapa kalian semua berisik sekali.
kami memutuskan untuk mengabaikan itu semua. toh lagi lagi yang menjalani hubungan ini kami bukan mereka. tutup mata dan telinga. biar saja mereka mau bicara apa. selagi gag minta makan sama mereka bodo amat lah.
kami jalani hubungan ini dengan "bahagia" versi kami. hubungan yang saling menguatkan dan menjaga. lebih tepatnya dia yang menguatkan dan menjaga ku dan aku yang selalu mengacaukan dunianya. hahahah :D tapi saat itu kami bahagia.
lau tiba dimana saat kami harus berpisah. ah iya, lupa ku ceritakan pada kalian bahwa dia satu tingkat di atas ku. otomatis dia akan lulus lebih dahulu. dan tiba sudah waktunya dia untuk melanjutkan kehidupannya meninggalakan kota kecil ini. aku ? jangan kalian tanya bagaimana perasaan ku. semua tak bisa digambarkan dengan kata kata. bayangkan, apa yang nantinya harus ku lakukan kalau dia tidak ada di dekat ku ? selama ini dia membantu ku dalam segala hal. dia yang selalu menemani ku dalam setiap kesempatan. dia yang selalu meminjamkan pundaknya untuk ku ketika aku bersedih. huft, semua berkecamuk di benak ku saat itu.
aku tidak berani menjanjikan aku baik baik saja bila tidak ada dia dan aku tidak yakin dia baik baik saja tanpa aku disisinya. aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dengan baik baik ketika itu. aku meminta dia untuk hidup bahagia dan menemukan wanita baik nantinya disana. aku memnta dia untuk melupakan aku dan fokus pada masa depannya. dia, aku tidak tau apa yang ada dibenaknya. tapi setelah beradu argumen yang cukup lama ia pun mengiyakan apa yang menjadi keputusan ku. dan kami memulai hidup kami masing masing sejak hari itu.
kami tetap berteman baik. dia kembali menjadi kakak yang selalu bersedia mendengarkan keluhan dari adiknya yang manja ini. tampak luar memang semua baik baik saja. tapi hati ku tidak. aku tidak pernah menemukan laki laki baik seperti dia sebelumnya. dia terlalu berkesan untuk ku. dan aku diam diam masih menyimpan perasaan ini untuknya.
ya aku simpan sendiri perasaan ini. aku berusaha untuk bersikap sewajarnya saja. bersikap layaknya adik dan tidak lebih dari itu. hari berganti minggu minggu berganti bulan bulan berganti tahun dan dia tetap di hati ku. aku sudah mencoba membuka hati ku utnuk orang lain. beberapa kali aku mencoba membangun hubungan dengan orang lain. tapi lagi dan lagi hati kecil ku masih terkunci untuk satu nama dan itu dia.
kalian tau bagaimana sakitnya perasaan macam itu. sakit termat sakit. menyimpan perasaan yang sama dengan diam diam bertahun tahun lamanya. air mata terlalu banyak terbuang untuk menangisi perasaan ini. kemana harus aku berlari untuk mengalihkan perasaan ini. kemana, harus bagaimana. sampai hari ini aku tidak menemukan jawabannya.
aku masih diam dan mengharapkannya. sesekali kami bertemu ketika ada kesempatan, dan setiap kami bertemu hati ku kian teriris. sakitnya semakin sakit. meihat dia tersenyum di hadapan ku dan penyebabnya tersenyum bukan lah aku.
akhirnya aku memutuskan untuk menghindarinya. berharap cara ini cukup ampuh untuk sejenak melupakannya. tapi kenyataannya ini membuat ku kian merindukannya. berat ku lewati hari hari ku. dan saat ini aku memutuskan untuk pergi jauh sejauh jauhnya. hingga aku tidak dapat menjangkaunya dan dia tidak dapat menemukan ku. dengan begitu aku berharap aku bisa melupakannya. entah akan menghabiskan waktu berapa puluh tahun untuk berlari dan bersembunyi seperti ini. tapi aku akan terus melangkah melanjauh dan terus menjauh.
biar, biar rasa ini ku simpan sendiri. biar, biar sakit ini ku pendam sendiri. biar, biar ku habiskan waktu ku disini sendiri.
aku harap kamu tetap berbahagia disana. aku harap kamu terus bahagia. aku harap kamu terus tertawa. aku selalu berharap semua yang terbaik untuk mu. biar aku disini diam diam mendoakan mu. biar aku disini diam diam menyebut nama mu dalam setiap sujud ku.
aku yang masih mencintai mu yang masih menyayangi mu yang masih mengasihi mu.
Komentar
Posting Komentar